Hilirisasi Emas & Tembaga di Gresik: Cuan Siapa, Kami Cuman Kebagian Debu?

Gresik lagi booming proyek emas-tembaga, katanya sih cuan numpuk dan serap ribuan tenaga kerja. Tapi jangan senyum dulu, bestie. Bisa jadi kita cuma kebagian debu pabriknya doang. Simak sebelum bilang "Mantap, Gresik maju!"
Oleh: Divisi Kominfo
Jadi gini, rek. Bulan Mei 2026 ini, Gresik lagi happening banget. Bayangin aja, ada groundbreaking proyek hilirisasi tembaga dan emas tahap II di KEK JIIPE. Danantara yang motori, MIND ID, PT Freeport, Antam, Pindad, semua konglomerat negara ngumpul di sini. Katanya sih bakal nyerap 7.500 tenaga kerja, ngolah konsentrat jadi katoda tembaga, brass mill, sampai emas batangan 30 ton per tahun.
Wagub Jatim Emil Dardak bilang ini bukti Gresik jadi "simpul hilirisasi terintegrasi" nasional. Keren? Banget. Tapi sebagai mahasiswa manajemen yang dididik buat berpikir kritis sebelum menerima kenyataan, kami cuma bisa mikir: ini cuan buat siapa, sih? Kita-kita cuma kebagian debu proyek apa gimana?
Pertumbuhan vs Kenyataan: Sebuah Plot Twist
Di teori ekonomi pembangunan, ada istilah enclave economy yang dipopulerkan Cardoso & Faletto. Simpelnya gini: ada investasi gede masuk, tapi dia cuma bikin "pulau kemakmuran" sendiri. Yang cuan ya pemodal dan elite lokal, sementara warga sekitar? Ya syukur-syukur kebagian jualan gorengan di depan gerbang pabrik. Dan ini bukan teori kosong loh rek.
Coba kita lihat Morowali. Daerah itu PDRB per kapitanya Rp1 miliar per tahun di 2024. Gendeng, kan? Sementara rata-rata nasional cuma Rp78,6 juta. Tapi coba tebak pengeluaran per kapita masyarakatnya berapa? Cuma Rp2 juta per bulan. Cuma 2,4% dari output daerah! Jadi ibaratnya begini, duit numpuk segunung di kawasan industri, tapi warga lokal? Ya gitu-gitu aja. Sekolah negeri masih morat-marit, nelayan kehilangan laut karena limbah, PAD mini kayak jajan receh.
Nah, Gresik ini ada di persimpangan yang persis kayak Morowali dulu. Kalau nggak dikelola dengan niat banget, ya siap-siap aja kita jadi Morowali versi pesisir utara.
KEK Itu Semacam "VIP Room" yang Dilindungi Negara
Penelitian LPEM UI (2024) nemuin fakta menarik: wilayah dengan KEK memang bisa narik investasi 77% lebih tinggi, mantap. Tapi penyerapan tenaga kerjanya? Cuma naik 4% dibanding wilayah tanpa KEK. Dikit banget kan buat proyek yang digadang-gadang bakal jadi dewa penyelamat ekonomi lokal?
Apalagi, KEK ini statusnya Proyek Strategis Nasional dan Objek Vital Nasional. Artinya, dia dapat perlindungan keamanan maksimal, insentif fiskal uwakeh, dan kemudahan perizinan. Seperti "anak emas" yang segala kebutuhannya dijamin negara. Tapi rakyat sekitar? Belum tentu dapat perlakuan yang sama.
Peter Evans (1995) dalam teori embedded autonomy-nya bilang: negara harus cukup mandiri dari tekanan oligarki, tapi juga harus nyambung sama realitas sosial ekonomi rakyatnya. Nah, yang sering terjadi di Indonesia justru sebaliknya: negara hadir buat ngamanin korporasi, tapi pas rakyat butuh akses air bersih, listrik, atau sekolah yang layak, kok ya susahnya minta ampun.
Lima Syarat Biar Gresik Nggak Jadi "Morowali Baru" Versi Sedih
Biar proyek ini beneran jadi berkah, bukan cuma hype sesaat lalu kita semua cuma gigit jari, ada beberapa syarat wajib yang harus diperjuangkan:
Transfer Teknologi, Bukan Cuma Transfer Buruh. Jangan cuma dijadiin operator produksi doang. Pemuda Gresik harus disiapin jadi manajer, teknisi, pengelola lini. Joint ventures antara investor dan perusahaan lokal harus beneran jalan, bukan formalitas doang buat lolos syarat AMDAL.
PAD Gresik Harus Meledak (dalam arti positif). Proyek segede ini harusnya bikin kas daerah Gresik ikut makmur. PAD harus naik signifikan supaya bisa dipake bangun sekolah kejuruan, puskesmas, perbaikan jalan kampung. Kalau enggak, ya output gede cuma jadi pajangan statistik.
UMKM Lokal Wajib Masuk Rantai Pasok. Ini nih yang paling krusial. Sesuai Inpres No. 2/2022, 40% belanja barang/jasa pemerintah dan BUMN harus dari UMKM dan koperasi. Pertanyaannya: diterapin juga nggak di ekosistem KEK? Warung makan, jasa laundry, katering, suplai bahan penolong, seragam kerja—semuanya harus prioritasin lokal. Jangan sampai kebutuhan logistik malah impor dari Surabaya semua, terus warga Gresik cuma jadi penonton truk-truk besar lalu-lalang depan kampung.
Jangan Berhenti di Setengah Jadi. Hilirisasi itu jangan cuma berhenti di katoda tembaga, brass mill, atau emas batangan. Harus ada percepatan menuju produk akhir yang nilai tambahnya jauh lebih gede. Biar rantai nilai terperangkap di sini, nggak kabur ke luar negeri lagi.
Diversifikasi Industri Padat Karya Itu Penting. Kita nggak bisa selamanya bergantung sama industri padat modal kayak smelter. Rente dari komoditas harus diputer buat mendorong industri padat karya—elektronik, tekstil, peralatan transportasi—yang bisa nyerap tenaga kerja lebih gede dan lebih sustainable buat wajah buruh lokal.
Gerbangkertosusila: Antara Harapan dan Realita
Penelitian terbaru UPN Veteran Jawa Timur (2025) sebenarnya kasih angin segar. Gresik dan Sidoarjo punya hubungan saling menguatkan dalam pertumbuhan sektor industri di kawasan Gerbangkertosusila. Artinya, spillover effect ke daerah sekitar tuh mungkin banget terjadi, asalkan ada strategi yang nggak setengah-setengah.
Jadi, sebagai mahasiswa manajemen, kita nggak boleh cuma tepuk tangan pas ada seremoni groundbreaking. Kita harus terus-terusan nanya: "Ini pertumbuhan sampai nggak sih ke warung kopi di Manyar? Ke bengkel las di Sidayu? Ke pemuda putus sekolah di Bungah?"
Kalau jawabannya masih "belum", ya artinya hilirisasi baru sukses di PowerPoint dan spanduk, bukan di dapur, di dompet, dan di masa depan kita semua.
Gresik butuh lebih dari sekadar pabrik megah dan angka investasi fantastis. Gresik butuh ekosistem ekonomi yang nyata, yang bisa dirasakan oleh penjual nasi krawu, tukang ojek online, sampai lulusan SMK yang pengen kerja tanpa harus rantau ke luar negeri.
Wallahu a'lam bishawab. Semoga kita nggak cuma jadi penonton di tanah sendiri. 🤞
Untuk Instagram: gunakan tombol “Salin link” lalu paste ke Story / Bio Anda.