FOMO Investasi ala Mahasiswa: Gaya-gayaan Jadi "Trader", atau Serius Bangun Kekayaan Jangka Panjang?

Status WhatsApp isinya IHSG, Story Instagram isinya candlestick saham, tapi portofolio masih merah dan tugas kuliah masih numpuk. Apakah kita benar-benar sedang membangun kekayaan masa depan, atau sekadar terjebak FOMO berselimut topeng intelektualitas? Artikel ini membongkar fenomena "trader dadakan" di kalangan mahasiswa secara kritis dan akademis.
Beberapa waktu lalu, saya tergelitik melihat linimasa media sosial teman-teman sebaya. Status WhatsApp dan Instagram Stories tak lagi sekadar berisi keluhan tugas kuliah, foto kopi di angkringan, atau celotehan patah hati. Kini, berseliweran tangkapan layar grafik harga saham, jargon-jargon teknikal seperti support & resistance, hingga foto para "influencer finansial" yang tersenyum percaya diri menjanjikan kebebasan finansial di usia muda. Fenomena ini melahirkan satu pertanyaan yang tak sederhana yaitu apakah kita, mahasiswa, benar-benar sedang membangun pondasi kekayaan jangka panjang, atau sekadar terjebak dalam Fear of Missing Out (FOMO) yang dibalut topeng intelektualitas?
Pertanyaan ini layak diajukan, bukan untuk meremehkan niat baik berinvestasi, tetapi justru untuk mendudukkan semangat tersebut pada tempat yang proporsional. Investasi, dalam terminologi keuangan klasik, adalah aktivitas menunda konsumsi saat ini demi memperoleh pengembalian yang lebih besar di masa depan (Bodie, Kane, & Marcus, 2014). Definisi ini menekankan dua prasyarat fundamental yaitu adanya kelebihan dana yang tidak digunakan untuk konsumsi, dan orientasi waktu jangka panjang. Di sinilah letak ironi pertama. Bagaimana mungkin kita membicarakan "kelebihan dana" sementara realitas mahasiswa mayoritas masih bergantung pada kiriman orang tua, beasiswa, atau pendapatan paruh waktu yang fluktuatif?
Konteks inilah yang sering kali kabur di tengah gempuran konten "investasi untuk pemula" yang menjamur di media sosial. Narasi yang dominan adalah bahwa investasi itu mudah, murah, dan siapa pun bisa. Benar bahwa kemajuan teknologi finansial (fintech) telah mendemokratisasi akses ke pasar modal. Aplikasi sekuritas kini memungkinkan pembukaan rekening efek hanya dengan modal puluhan ribu rupiah. Namun, demokratisasi akses ini tidak otomatis berarti demokratisasi literasi. Yang terjadi justru sering kali adalah oversimplifikasi saham turun dianggap "diskon", saham naik dianggap "cuan", tanpa pemahaman elementer tentang kinerja fundamental emiten, analisis laporan keuangan, atau faktor makroekonomi yang memengaruhinya.
Di sinilah perilaku FOMO mulai bekerja. Secara psikologis, FOMO didefinisikan sebagai ketakutan bahwa orang lain sedang mengalami hal-hal yang lebih memuaskan sementara diri kita tidak ikut serta (Przybylski et al., 2013). Dalam konteks mahasiswa, tekanan sosial untuk "ikut berinvestasi" datang tidak hanya dari teman sebaya yang memamerkan portofolio hijaunya, tetapi juga dari figur-figur publik yang secara masif mengampanyekan bahwa "tidak berinvestasi adalah kebodohan finansial". Akibatnya, keputusan membeli instrumen investasi tidak lagi didasarkan pada analisis rasional, melainkan pada dorongan emosional agar tidak ketinggalan kereta. Herd behavior, atau perilaku ikut-ikutan, dalam pasar modal telah lama didokumentasikan sebagai salah satu bias kognitif paling destruktif bagi investor ritel (Shiller, 2000).
Lebih jauh, perilaku ini menciptakan dilema identitas yang menarik. Unggahan status analisis saham seolah menjadi penanda status baru: "Saya paham keuangan", "Saya anak manajemen yang aplikatif", atau "Saya investor muda". Padahal, jika ditelisik menggunakan kerangka self-determination theory dari Deci dan Ryan (2000), motif di baliknya perlu dipertanyakan. Apakah berinvestasi dilakukan karena motivasi intrinsik yakni kesadaran akan pentingnya perencanaan keuangan dan kemauan belajar analisis, ataukah karena motivasi ekstrinsik berupa pengakuan sosial? Jika yang dominan adalah yang kedua, maka yang terjadi bukanlah pembangunan kebiasaan investasi yang sehat, melainkan sekadar konstruksi citra diri (impression management) di hadapan publik digital.
Lantas, berarti investasi tidak penting bagi mahasiswa? Sama sekali tidak. Justru sebaliknya. Prinsip time value of money mengajarkan bahwa semakin dini seseorang mulai berinvestasi, semakin besar potensi pertumbuhan kekayaannya melalui efek penggandaan (compounding effect). Namun, yang perlu diluruskan adalah urutan prioritas dan definisi "investasi" itu sendiri. Pada fase kehidupan sebagai mahasiswa, investasi paling fundamental bukanlah pada instrumen pasar modal, melainkan pada human capital yaitu pengetahuan, keterampilan, jaringan, dan daya berpikir kritis. Kenaikan pendapatan masa depan yang bersumber dari peningkatan kompetensi akan jauh lebih signifikan dibandingkan return investasi saham yang dimulai dengan modal kecil. Sebagaimana diargumentasikan oleh ekonom Gary Becker (1964), investasi dalam pendidikan dan pelatihan menawarkan tingkat pengembalian yang sering kali melampaui investasi finansial konvensional, terutama pada tahap awal karier. Maka, cara mendamaikan fenomena FOMO ini bukan dengan berhenti berinvestasi, melainkan dengan merekonstruksi niat dan metodenya.
Pertama, mahasiswa perlu jujur pada diri sendiri: apakah dana yang digunakan benar-benar idle fund yang siap "dihilangkan" untuk jangka panjang? Jika uang jajan bulanan masih pas-pasan, mungkin lebih bijak untuk memulai dengan tabungan darurat atau reksa dana pasar uang yang minim risiko.
Kedua, porsi belajar harus diakui lebih besar daripada porsi "eksekusi" membeli saham. Mahasiswa Manajemen, misalnya, memiliki keunggulan komparatif untuk menjadikan aktivitas ini sebagai laboratorium hidup dari mata kuliah Manajemen Investasi dan Analisis Laporan Keuangan. Bukan untuk flexing, tapi untuk mengasah kemampuan analisis fundamental yang sesungguhnya.
Ketiga, jadikan kehadiran di media sosial sebagai sarana bertanya dan berdiskusi substantif, bukan sekadar memamerkan capital gain mingguan yang belum tentu berkelanjutan.
Pada akhirnya, menjadi investor sejati adalah perjalanan yang sunyi dan jauh dari hingar-bingar validasi sosial. Warren Buffett, salah satu investor paling sukses sepanjang sejarah, justru dikenal karena hidupnya yang sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk pasar. Mahasiswa perlu menanamkan dalam benak bahwa portofolio saham yang sehat bukanlah yang paling sering dipamerkan, melainkan yang tumbuh konsisten dalam keheningan analisis yang tajam dan kesabaran yang terlatih. Mari bertanya pada diri sendiri: status saham yang kita unggah, apakah lahir dari pemahaman atau sekadar ketakutan ketinggalan tren? Karena trader gaya-gayaan akan lelah sendiri ketika pasar bergejolak, sementara investor serius akan tetap bertumbuh, dua puluh tahun dari sekarang.
Untuk Instagram: gunakan tombol “Salin link” lalu paste ke Story / Bio Anda.