Ekonomi Kreatif Tembus Rp1.611 Triliun, tapi Kenapa Belum Jadi Mata Kuliah Wajib?

Ekonomi kreatif nyumbang Rp1.611 triliun ke PDB nasional dan serap 27,4 juta tenaga kerja. Tapi di kampus kita, mata kuliah yang khusus bahas strategi bisnis di sektor ini masih langka atau malah nggak ada sama sekali. Ada apa dengan kurikulum manajemen kita?
Oleh: Divisi Kewirausahaan
Bayangkan sebuah sektor ekonomi yang menyerap 27,4 juta tenaga kerja, menyumbang Rp1.611 triliun terhadap PDB nasional, dan mencatat pertumbuhan 6,57 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,03 persen . Sektor itu bukanlah manufaktur, bukan pula pertambangan. Ia adalah ekonomi kreatif. Namun, di tengah pencapaian fantastis tersebut, muncul pertanyaan yang patut diajukan oleh setiap mahasiswa manajemen: mengapa mata kuliah yang secara khusus membahas strategi bisnis di sektor ekonomi kreatif belum menjadi bagian wajib dalam kurikulum kami?
Divisi Kewirausahaan HMM UMG mengangkat isu ini bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk membuka diskusi tentang relevansi pendidikan tinggi manajemen dengan realitas ekonomi yang sedang tumbuh di depan mata.
Sebuah Sektor yang Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata
Mari kita mulai dengan data. Menurut laporan Badan Pusat Statistik yang disampaikan kepada Kementerian Ekonomi Kreatif pada Desember 2025, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional pada 2024 mencapai Rp1.611,2 triliun atau 7,28 persen. Pertumbuhan PDB sektor ini mencapai 6,57 persen, sementara pertumbuhan ekonomi nasional berada di angka 5,03 persen. Artinya, ekonomi kreatif tumbuh lebih cepat dibandingkan rata-rata ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Dari sisi tenaga kerja, sektor ini menyerap 27,4 juta pekerja atau 18,70 persen dari total penduduk bekerja. Lebih dari separuh dari mereka berusia di bawah 40 tahun, menandakan bahwa ekonomi kreatif adalah sektor yang sangat relevan bagi generasi muda termasuk mahasiswa manajemen yang akan segera memasuki pasar kerja.
Sementara itu, dari sisi ekspor, nilai ekspor ekonomi kreatif periode Januari hingga Oktober 2025 mencapai 26,68 miliar dolar AS, melampaui target RPJMN 2025 sebesar 26,44 miliar dolar AS . Subsektor fesyen mencatat ekspor tertinggi dengan nilai 14,86 miliar dolar AS, disusul oleh subsektor kriya sebesar 11,10 miliar dolar AS.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik yang dihafalkan untuk ujian. Ia adalah sinyal pasar yang sangat jelas: ekonomi kreatif adalah tambang baru pertumbuhan nasional .
Sumber Daya Alam Bisa Habis, Kreativitas Tidak
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dalam ILEAD SUMMIT 2026 yang digelar pada 11 Mei 2026 di Jakarta, menyampaikan pernyataan yang patut direnungkan oleh setiap mahasiswa manajemen. "Sumber daya alam bisa habis, tetapi kreativitas tidak terbatas," ujarnya .
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia mengandung implikasi yang sangat serius bagi arah pembangunan ekonomi Indonesia. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi kita ditopang oleh komoditas berbasis sumber daya alam: batu bara, minyak sawit, nikel, dan sejenisnya. Namun, sumber daya alam memiliki batas waktu. Ia akan habis. Kreativitas, sebaliknya, adalah sumber daya yang dapat terus diperbarui selama manusia masih berpikir dan berimajinasi.
Irene juga menegaskan pentingnya kolaborasi hexahelix melibatkan pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas, media, dan lembaga keuangan untuk mendorong ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan . Di sinilah universitas, termasuk program studi manajemen, memiliki peran yang tidak bisa diabaikan. Pertanyaannya: sudahkah kita menyiapkan mahasiswa untuk menjadi bagian dari ekosistem ini?
WCCE 2026 di Jakarta: Panggung Dunia yang Butuh Talenta Manajemen
Pada 21 hingga 23 Oktober 2026 mendatang, Indonesia akan menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) kelima di JIEXPO Jakarta. Ini adalah konferensi internasional ekonomi kreatif terbesar di dunia, yang akan dihadiri oleh sekitar 80 negara.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyebut WCCE sebagai forum strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat global . Rangkaian acara tidak hanya mencakup konferensi utama dengan pembicara dari berbagai negara, tetapi juga pertemuan tingkat menteri, forum internasional, hingga Creative Village yang mempertemukan pelaku industri dengan masyarakat luas.
Bagi mahasiswa manajemen, WCCE 2026 adalah laboratorium hidup. Di sana mereka bisa melihat langsung bagaimana pelaku industri kreatif merancang strategi bisnis, mengelola kekayaan intelektual, membangun jejaring global, dan mengakses pasar internasional. Namun, pertanyaannya kembali lagi: berapa banyak mahasiswa manajemen yang siap memanfaatkan momentum ini karena mereka telah dibekali pengetahuan tentang ekonomi kreatif di bangku kuliah?
Mengapa Ekonomi Kreatif Belum Jadi Mata Kuliah Wajib?
Inilah inti persoalannya. Di banyak program studi manajemen di Indonesia, mata kuliah yang secara khusus membahas strategi bisnis dalam konteks ekonomi kreatif masih berstatus pilihan atau bahkan tidak tersedia sama sekali. Padahal, jika kita melihat data, sektor ini jelas membutuhkan tenaga manajerial yang tidak sekadar paham prinsip-prinsip manajemen umum, tetapi juga mengerti karakteristik unik bisnis kreatif.
Mengelola bisnis di sektor kreatif berbeda dengan bisnis manufaktur atau jasa konvensional. Produk kreatif—baik itu animasi, gim, musik, fesyen, atau aplikasi digital memiliki logika ekonomi yang berbeda. Aset utamanya adalah kekayaan intelektual, bukan mesin atau tanah. Pemasaran dan branding-nya sangat bergantung pada narasi dan identitas, bukan sekadar fitur dan harga. Risiko dan pengembaliannya sering kali tidak linear; sebuah gim bisa gagal total, atau menjadi fenomena global dalam semalam.
Wamen Ekraf Irene Umar dalam ILEAD SUMMIT memaparkan berbagai capaian subsektor ekonomi kreatif Indonesia, mulai dari animasi, gim, aplikasi digital, musik, fesyen berkelanjutan, hingga intellectual property lokal yang semakin dikenal dunia. Masing-masing subsektor ini membutuhkan pendekatan manajemen yang spesifik. Mahasiswa yang hanya dibekali manajemen pemasaran generik mungkin akan kesulitan memahami bagaimana sebuah studio animasi merancang strategi lisensi karakter, atau bagaimana pengembang gim mengelola model bisnis in-app purchase.
Kementerian Ekonomi Kreatif sendiri telah menyadari kebutuhan ini. Dalam program strategis Ekraf 2026, mereka menyiapkan penguatan kapasitas talenta kreatif melalui pelatihan-pelatihan seperti Gen Matic, Emak Matic, program pengembangan konten untuk kreator digital, serta Kreasi Laboratorium (Kreatorium) untuk memperkuat ekosistem pekerja gig economy di perkotaan. Namun, program-program ini bersifat akseleratif dan berada di luar struktur kurikulum formal. Pertanyaannya: mengapa universitas tidak mengambil peran lebih besar dalam menyiapkan mahasiswa sejak dini?
Beberapa Kampus Sudah Bergerak, yang Lain Harus Menyusul
Sebagai catatan, beberapa institusi pendidikan tinggi sebenarnya sudah mulai merespons. Universitas Prima Indonesia (Unpri), misalnya, kini memiliki Program Studi Doktor Manajemen dengan fokus khusus pada Ekonomi Kreatif Berwawasan Socio-technopreneurship . Mata kuliah "Kewirausahaan dan Ekonomi Kreatif" sudah menjadi bagian dari kurikulum S3 mereka, dengan beban tiga SKS. Ini adalah langkah yang patut diapresiasi, meskipun masih terbatas pada jenjang doktoral.
Untuk jenjang S1 Manajemen, tampaknya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Padahal, mayoritas dari 27,4 juta pekerja di sektor ekonomi kreatif adalah lulusan S1 dan diploma—atau bahkan tidak memiliki gelar sarjana sama sekali. Mereka belajar secara otodidak, melalui pengalaman, atau melalui pelatihan-pelatihan non-formal. Bayangkan jika kurikulum S1 Manajemen secara sistematis membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang strategi bisnis kreatif dampaknya terhadap daya saing tenaga kerja Indonesia di sektor ini bisa sangat signifikan.
Apa yang Bisa Dilakukan Mahasiswa Manajemen Sekarang?
Pertanyaan terakhir dan yang paling penting adalah apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa manajemen saat ini, selagi menunggu perubahan kurikulum yang mungkin membutuhkan waktu panjang?
Pertama, belajar secara mandiri. Sumber daya untuk mempelajari ekonomi kreatif kini tersedia secara melimpah dan gratis. Laporan-laporan Badan Pusat Statistik, siaran pers Kementerian Ekonomi Kreatif, rekaman seminar seperti ILEAD SUMMIT 2026, hingga diskusi-diskusi di media sosial semua bisa diakses. Mahasiswa manajemen tidak perlu menunggu mata kuliah wajib untuk mulai memahami sektor ini.
Kedua, hadiri acara-acara strategis. WCCE 2026 di Jakarta pada Oktober mendatang adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan . Creatives Village yang digelar paralel dengan konferensi utama membuka ruang bagi talenta muda untuk membangun koneksi dengan jejaring internasional . Bagi mahasiswa manajemen di Gresik dan sekitarnya, menghadiri acara semacam ini adalah investasi waktu yang sangat berharga—bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk memperluas jejaring profesional.
Ketiga, mulai praktik, sekecil apa pun. Ekonomi kreatif tidak menuntut modal besar di awal. Ide dan eksekusi adalah modal utamanya . Membuka toko daring untuk produk fesyen daur ulang, merancang konten edukasi ekonomi di media sosial, atau mengembangkan prototipe gim sederhana bersama teman-teman sekelas adalah contoh-contoh langkah awal yang dapat dilakukan tanpa perlu menunggu lulus wisuda.
Keempat, pahami kekayaan intelektual. Salah satu aspek paling krusial dalam ekonomi kreatif adalah perlindungan hukum atas karya cipta. KULT KREO 2026, yang digelar paralel dengan WCCE, mendorong pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) sebagai bentuk pengakuan legal atas nilai ekonomi karya kreatif . Mahasiswa manajemen yang memahami seluk-beluk IP akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan, baik sebagai wirausahawan maupun sebagai konsultan bagi pelaku industri kreatif.
Penutup: Saatnya Berpaling ke Sektor yang Tumbuh
Indonesia sedang menyaksikan lahirnya sebuah sektor ekonomi yang tumbuh lebih cepat, menyerap lebih banyak tenaga kerja muda, dan menawarkan potensi ekspor yang melebihi target nasional. Nama sektor itu adalah ekonomi kreatif. Pemerintah telah menyiapkan berbagai program akselerasi, mulai dari WCCE 2026 hingga pelatihan-pelatihan talenta digital. Namun, semua upaya itu akan lebih dahsyat dampaknya jika dunia pendidikan tinggi khususnya program studi manajemen turut mengambil peran secara lebih serius.
Kami, Divisi Kewirausahaan HMM UMG, percaya bahwa mahasiswa manajemen tidak boleh hanya menjadi penonton dalam transformasi ekonomi ini. Kami harus menjadi pelaku, pemikir, dan penggerak. Untuk itu, kami mengajak seluruh mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Gresik untuk mulai belajar, hadir, dan berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi kreatif sekarang juga.
Karena seperti kata Wamen Ekraf Irene Umar: “sumber daya alam bisa habis, tetapi kreativitas tidak terbatas.” Dan mahasiswa manajemen, dengan bekal strategi dan eksekusi yang dipelajarinya, adalah kandidat terbaik untuk memimpin sektor ini.
Untuk Instagram: gunakan tombol “Salin link” lalu paste ke Story / Bio Anda.